Pondok putri ayu, selasa pukul 13.00 versi parangtambung.
"Aishh, makan es krim ko lagi mit?" (dalam dialek bugis bulukumba).
"Kamma biasa...." jawabku.
"Sepertinya kau tak bisa dipisahkan dengan benda yang satu ini, ayolah itu makanan anak-anak, masih banyak yang bisa kau makan daripada itu, hehe.." candanya.
"Tapi apa kau tahu, perbedaan mendasar dirimu dengan anak-anak saat makan es krim?"
apa?
Kalau anak-anak makan es krim vanilla sambil tersenyum dengan riang maka kamu makan es krim vanilla sambil berkhayal (sambil mengerlingkan mata kirinya*)
opppss...ke belakang dulu ya...hahaha :D.
"Berhentilah menggodaku lagi, dasar nenek hera"
Dear Imaji, entahlah...
Setiap aku makan es krim vanilla saat stress aku merasa nyaman. Orang lain jika stress mungkin akan mencari seseorang untuk berbicara dengannya setidaknya berbagi tentang masalah mereka. Namun, berbeda denganku...es krim.
Dingin dan lembutnya menyeruak masuk ke dalam lidahku dan terkadang ku bayangkan dirinya kembali..*OOPppss..:)
Bontonompo, 1993.
Daeng sarring membunyikan lonceng, semua siswa SMP segera beranjak dari kantin dengan malas masuk ke dalam kelas. Kulihat ibuku merapikan buku-buku dan absen yang ia ingin bawa ke dalam kelas. Tiba saatnya bu guru geografi ini menyampaikan palajaran tentang dunia, dunia peta dalam benua dan samudra. Aku yang sudah terbiasa melihat itu, segera berdiri mengikuti ibu masuk ke dalam kelas, kulihat ibu memutarkan pandangannya ke seluruh kelas (itu berarti ibuku sedang menghitung jumlah siswa yang hadir saat itu). Sehabis mengabsen, sesegera dia menjelaskan materi dengan metode tertentu *aku yang saat itu belum mengerti, hanya melihat dia sibuk menjelaskan.
Karena merasa bosan, akupun keluar kelas, seperti biasa aku sering berkeliling sekolah, aku tahu setiap detail ruangan di sekolah ini, bahkan gudang kosongpun sering aku masuki he..he..8).
Kali ini aku mencari teman-teman kecilku yang lain, anak guru-guru lain yang sebaya denganku, kutemukan dia, aras. Aras memiliki sifat yang periang, berani dan selalu ingin tahu, terkadang ia mengajakku berkeliling sekolah memasuki ruangan-ruangan yang belum pernah aku jamah di sekolah. Bahkan ruangan yang tak boleh dimasuki siswapun berhasil kami masuki, itu karena akal si Aras.
Kami membuat tempat kami sendiri (seingatku ada ruangan kelas yang tidak dipakai lagi, biasanya ditempati bangku-bangku yang sudah rusak atau buku-buku yang tak dipakai lagi), di ruangan itu kami membuat ruangan tersendiri (layaknya ruangan kepala sekolah yang bagus itu) dengan meja dan bangku masing-masing terkadang kami bermain kartu dan bersandiwara atau sekedar membagi permen karet yang telah kami kumpulkan dari hasil permainan gasing dari anak-anak lain he2x (well, masa kanak-kanak adalah masa untuk berkhayal yang aneh-aneh).
Hari itu, kudapatkan dia sedang asyik bermain pasir di lapangan lompat jauh.
"Aras sedang apa?" kulihat dia asyik membasahi pasir dengan air minum yang ia bawa, air yang meresap perlahan-lahan ke dalam pasir membuat ia tertarik untuk mengulang-ulangnya di area yang lain.
"Mit, ada tempat baru..."
"Kemarin, aku masuk di dalamnya, tempatnya menarik"
"o ya??di mana?"
Segera ia berdiri dan berjalan cepat, tanpa isyarat apapun aku mengikutinya.
Sebuah ruangan gelap, nampaknya tak pernah dipakai dan satu lagi "tidak terkunci", mungkin Daeng sarring lupa untuk menguncinya.
Aku dan Aras masuk.
Aku melihat banyak barang-barang aneh, sebuah toples berukuran besar dan lumayan tinggi untuk ukuran anak kecil sepertiku. Seekor ayam yang kehilangan bulu dan telah terbelah badannya sehingga kita bisa melihat isi perutnya, ayam ini terendam dengan cairan berwarna kuning bening (eyyyakkkk :P) dan toples tertutup rapat (kelas 2 SMP, aku baru tahu kalo itu adalah ayam yang direndam dengan formalin sehingga lebih awet, biasanya digunakan oleh guru biologi sebagai alat peraga).
Lama kuamati awetan itu namun tanpa sadar aku kehilangan jejak Aras.
Naluriku yang penakut seketika membuat segera mencari Aras, berkali-kali kupanggil namanya, namun ia tak menyahut sedikitpun.
Dari sudut ruang itu, terdengar suara gemerisik karena penasaran akupun ke sana. Berjalan pelan-pelan dengan rasa takut yang meradang karena ketahuan penjaga sekolah atau takut karena sesuatu yang aneh akan muncul di sana seperti yang sering aku tonton di film horor tapi karena rasa ingin tahu yang tinggi membuat langkahku tetap ke sana.
Aku membuka pintu ruangan,..
Ya Tuhan aku melihat Aras bersalaman dengan seseorang.
Seseorang yang lebih tinggi dari kami, seseorang yang aneh.
Seseorang tanpa daging, putih dan kosong.
Seseorang yang sering aku lihat di film horor bersama kakakku.
Entah apa, refleks aku berteriak histeris.
Memanggil ibuku....
Kulihat Aras dengan entengnya mengangkat tangan kerangka itu dan menunjukkannya padaku.
Aku semakin berteriak dengan teriakan yang lebih keras dari sebelumnya.
Sontak, ibuku yang tadi mencari sejak pelajaran habis langsung berlari ke arah ruangan itu *setelah kejadian aku baru tahu itu adalah laboratorium biologi.
Sesegera ibuku mendiamkanku sambil mengatakan itu hanya mainan *he???adakah mainan menyeramkan seperti itu, macam mana?
Aku hanya menangis sesengukan sambil menyembunyikan wajahku di balik pelukannya.
Sungguh, waktu itu aku dipenuhi rasa takut yang sangat, sangat takut bahkan badankupun bergetar.
Aku sempat demam dua hari karena kejadian ini.
Sejak hari itu, aku tak pernah bermain lagi dengan Aras *ngambek mode on.
Dia selalu mencariku di ruang guru tapi aku tak ada bahkan di ruang kamipun, akupun tak pernah ke sana.
Aku mendapatkan tempat nyamanku tersendiri yaitu di perpustakaan.
Setelah lama mencari, akhirnya dia mendapatiku membolak-balik buku bergambar di ruangan ini.
Mungkin dia juga kesepian...
Dengan senyum tak bersalah ia datang, aku cemberut saja.
"Aku punya sesuatu untuk mita"
Sambil menyodorkan es krim vanilla dan memberikan senyum khasnya untukku. (senyum anak kecil dengan rasa bersalah).
Kalau tidak mau, ntar nyesal lho, ini es krim kubeli di toko depan sekolah.
aku luluh juga dengan sogokan es krim itu *bodoh mode on.
Taktiknya berhasil namun ia tak membawaku ke ruangan yang aneh lagi (bersalah kali ya..).
Kesalahannya membuatku demam dua hari terhapus hanya dengan satu buah es krim vanilla.*tanpa mengucapkan kata maaf.
Hallowwww...mit, di mana logikamu??mungkin saat aku masih kecil jadi tak terpikir lagi. Yang kupikir hanya manisnya es krim vanilla.
Seharian kami bermain sampai jam pulang sekolah seperti biasa dia langsung ke meja Ayahnya.
Esoknya..aku tak pernah melihatnya lagi di sekolah, kata ibu, ayahnya dipindah tugaskan ke daerah lain.
Imaji...
jika kuingat kejadian itu, aku seharusnya tak menerima es krim vanilla itu, biar dia mencariku dan setidaknya dia mengucapkan kata maaf atau selamat tinggal padaku.
Kadang aku tersenyum dari mana seorang anak kecil berusia 5 tahun mendapatkan taktik membujuk seperti itu,..he???dari film kartun atau apa ya?
Tapi es krim vanilla itu kini membuatku tenang jika aku merasa takut atau moody.
17 tahun lewat sudah dan aku tak tahu di mana kamu sekarang, Aras.
Dan lain kali jika kau menyodorkan es krim padaku, aku tak akan menerimanya lagi karena aku tak akan memaafkanmu lagi meninggalkanku tanpa ucapan selamat tinggal.
Aras jelekkkk....:P.